Senin, 22 Juni 2009
kOMpeTEnSi OJT
KuRang kaRena SewakTu Di InDusTRI keRJa Saya masih belum MempunYai bekal Yang cukup Dari sekolah,,,sEhingga di inDustrI saya berTanya unTuk mendapat KomPetenSi baRu yang bElum Saya Dapat daRi SekoLah.......SebaikNya seKolah MemPercEpat komPetenSi Agar Di IndusTRi sIswa-SisWI MeMperoLeh Bekal Yang maTang.
haRi KaRtiNI
Raden Ajeng (RA) Kartini memang telah tiada. Rohnya telah bersemayam di alam keabadian; menghadap Sang Khalik, 104 tahun yang silam, 17 September 1904). Meski demikian, nama perempuan ningrat Jawa yang lahir di Jepara, 21 April 1879 itu, akan terus dikenang sebagai sosok perempuan pejuang yang tak henti-hentinya berusaha “membuka mata” kaumnya dari ketertindasan dan keterbelakangan. Nilai-nilai kesetaraan menjadi mainstraim dan basis perjuangannya. Kartini tak segan-segan menggugat ketidakadilan di tengah atmosfer kultur Jawa yang demikian feodalistik. Derajat aristokrat dan darah kebangsawanan yang mengalir ke dalam tubuhnya rela ia “gadaikan” demi mengangkat martabat dan kehormatan kaumnya di tengah hegemoni kekuasaan kaum lelaki.
Begitulah sosok Kartini. Namun, hanya sejengkal kisah yang bisa kita peroleh dari sosok perempuan pejuang yang mati muda itu. Begitu dangkal pemahaman kita terhadap semangat, ideologi, dan cita-citanya. Seringkali kita terjebak pada sikap snobis, latah, dan ikut-ikutan. Repotnya, situasi itu terus berlangsung dari tahun ke tahun; dari generasi ke generasi. Sosok Kartini hanya sebatas dipahami sebagai simbol emansipasi dengan lebih menonjolkan kekuatan lahiriahnya sebagai sosok perempuan feminim khas Jawa melalui simbol busana kebaya. Kita merasa sudah menghargai sang pahlawan dengan membesar-besarkan simbol-simbol lahiriah.
Lihatlah “ritual” yang berlangsung menjelang 21 April! Hampir di seantero dan penjuru tanah air, Kartini bagaikan menitis dan menjelma menjadi Kartini-Kartini kecil melalui balutan kebaya khasnya. Salon-salon jadi ramai. Banyak yang antre minta dirias ala Kartini. Tak jarang, mereka harus menyewa dengan harga yang sengaja dilipatgandakan. Namun, ananda tercinta agaknya tak peduli. Mereka malu jika tidak harus berkebaya. Apalagi diperintahkan oleh gurunya. Wah, orang tua pun mesti repot mengantar, menunggui di salon, hingga mengantarkan mereka ke sekolah. Berapa saja waktu yang terbuang untuk bisa melakukan aktivitas produktif. Atas nama Kartini, bangsa ini demikian tega memaksakan “jiwa” Kartini merasuk ke dalam batin anak-anak lewat busana.
Sejatinya, kita memang awam terhadap sosok Kartini secara ideologis. Selain karena pertautan waktu yang sudah melewati bentangan abad, kita juga telanjur mengagungkan nama Kartini secara keliru dari waktu ke waktu. Momentum hari kelahiran hanya sekadar dimanfaatkan untuk lomba-lomba yang bercorak feminitas, pidato berbusa-busa, lomba memasak, hingga acara-acara seremonial semacam upacara-upacara. Upacara seremonial di negeri ini agaknya sudah menjadi budaya akut yang memuja formalitas, termasuk dalam mengenang sosok Kartini.
Saya bukannya tidak setuju momentum Hari Kartini dimeriahkan dengan berbagai acara. Namun, akan lebih bermakna jika acara yang digelar lebih menyentuh ke persoalan bangsa secara makro, seperti kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Ketiga ranah inilah yang –menurut hemat saya– sebenarnya menjadi mainstraim dan basis perjuangan Kartini, selain pemberdayaan terhadap kaum hawa.
Dari sisi ini, sebenarnya Kartini bukan hanya sebagai sosok pejuang emansipasi perempuan yang telah mengglobal, melainkan juga sosok “oposan” terhadap kultur Jawa yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Bahkan, bisa jadi nilai-nilai feodalistik berbasis patriarki sebenarnya bukan hanya di Jawa, melainkan juga di daerah-daerah lain. Ini artinya, Kartini pada satu abad yang silam telah mulai menggedor pintu ketidakadilan yang (nyaris) dirasakan oleh sebagian besar kaum perempuan sehingga negeri ini menjadi begitu akrab dengan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.
Alangkah bahagianya Kartini di alamnya sana melihat negeri ini mampu menjadi sebuah bangsa yang mampu membebaskan diri dari jeratan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Beliau juga bisa tersenyum dengan ketulusan yang begitu sempurna ketika hari kelahirannya dirayakan dengan berbagai kegiatan sosial; membantu saudara-saudaranya yang kelaparan, mendidik anak-anak jalanan, membebaskan kaum perempuan dari suasana fasis, atau kegiatan-kegiatan sosial lain yang mampu mengangkat derajat kaum marginal dari ketertindasan dan ketidakadilan.
Namun, sungguh ironis. Bisa jadi, Kartini masih akan terus menangis ketika ideologi yang dulu gencar diperjuangkannya belum juga terwujud. Bisa jadi juga, dada Beliau terasa sesak menyaksikan kartini-kartini muda yang latah memujanya secara berlebihan melalui hal-hal yang lebih bersifat fisik dan kebendaan. Apalagi, melakukan indoktrinasi dan pemaksaan kehendak agar anak-anak kecil mengenakan kebaya hanya sekadar untuk mengenang dan mengagungkan namanya. Sungguh! Kartini, dalam dunia imajiner saya, tidak terlalu silau oleh segala macam bentuk penghormatan dan pemujaan secara berlebihan. Yang lebih Beliau hargai adalah semangat untuk mewarisi ideologi dan gerakan Beliau untuk memberdayakan kaum perempuan sekaligus menjadikan kemiskian, kebodohan, dan keterbelakangan sebagai musuh bersama.
NILAI-NILAI ;
1. Selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat bagi wanita-wanita di Indonesia...........
2. Selalu berpikir positif dalam menanggapi masalah..........
3.Wanita memiliki hak-hak yang harus di perjuangkan.......
SARAN-SARAN UNTUK "Kartini-kartini Muda"
1. Selalu perjuangkan hak-hak seorang wanita......
2. jangan mau di tindas oleh kaum lelaki.......
3. Selalu berpikir positif dan realistis..........
Begitulah sosok Kartini. Namun, hanya sejengkal kisah yang bisa kita peroleh dari sosok perempuan pejuang yang mati muda itu. Begitu dangkal pemahaman kita terhadap semangat, ideologi, dan cita-citanya. Seringkali kita terjebak pada sikap snobis, latah, dan ikut-ikutan. Repotnya, situasi itu terus berlangsung dari tahun ke tahun; dari generasi ke generasi. Sosok Kartini hanya sebatas dipahami sebagai simbol emansipasi dengan lebih menonjolkan kekuatan lahiriahnya sebagai sosok perempuan feminim khas Jawa melalui simbol busana kebaya. Kita merasa sudah menghargai sang pahlawan dengan membesar-besarkan simbol-simbol lahiriah.
Lihatlah “ritual” yang berlangsung menjelang 21 April! Hampir di seantero dan penjuru tanah air, Kartini bagaikan menitis dan menjelma menjadi Kartini-Kartini kecil melalui balutan kebaya khasnya. Salon-salon jadi ramai. Banyak yang antre minta dirias ala Kartini. Tak jarang, mereka harus menyewa dengan harga yang sengaja dilipatgandakan. Namun, ananda tercinta agaknya tak peduli. Mereka malu jika tidak harus berkebaya. Apalagi diperintahkan oleh gurunya. Wah, orang tua pun mesti repot mengantar, menunggui di salon, hingga mengantarkan mereka ke sekolah. Berapa saja waktu yang terbuang untuk bisa melakukan aktivitas produktif. Atas nama Kartini, bangsa ini demikian tega memaksakan “jiwa” Kartini merasuk ke dalam batin anak-anak lewat busana.
Sejatinya, kita memang awam terhadap sosok Kartini secara ideologis. Selain karena pertautan waktu yang sudah melewati bentangan abad, kita juga telanjur mengagungkan nama Kartini secara keliru dari waktu ke waktu. Momentum hari kelahiran hanya sekadar dimanfaatkan untuk lomba-lomba yang bercorak feminitas, pidato berbusa-busa, lomba memasak, hingga acara-acara seremonial semacam upacara-upacara. Upacara seremonial di negeri ini agaknya sudah menjadi budaya akut yang memuja formalitas, termasuk dalam mengenang sosok Kartini.
Saya bukannya tidak setuju momentum Hari Kartini dimeriahkan dengan berbagai acara. Namun, akan lebih bermakna jika acara yang digelar lebih menyentuh ke persoalan bangsa secara makro, seperti kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Ketiga ranah inilah yang –menurut hemat saya– sebenarnya menjadi mainstraim dan basis perjuangan Kartini, selain pemberdayaan terhadap kaum hawa.
Dari sisi ini, sebenarnya Kartini bukan hanya sebagai sosok pejuang emansipasi perempuan yang telah mengglobal, melainkan juga sosok “oposan” terhadap kultur Jawa yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Bahkan, bisa jadi nilai-nilai feodalistik berbasis patriarki sebenarnya bukan hanya di Jawa, melainkan juga di daerah-daerah lain. Ini artinya, Kartini pada satu abad yang silam telah mulai menggedor pintu ketidakadilan yang (nyaris) dirasakan oleh sebagian besar kaum perempuan sehingga negeri ini menjadi begitu akrab dengan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.
Alangkah bahagianya Kartini di alamnya sana melihat negeri ini mampu menjadi sebuah bangsa yang mampu membebaskan diri dari jeratan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Beliau juga bisa tersenyum dengan ketulusan yang begitu sempurna ketika hari kelahirannya dirayakan dengan berbagai kegiatan sosial; membantu saudara-saudaranya yang kelaparan, mendidik anak-anak jalanan, membebaskan kaum perempuan dari suasana fasis, atau kegiatan-kegiatan sosial lain yang mampu mengangkat derajat kaum marginal dari ketertindasan dan ketidakadilan.
Namun, sungguh ironis. Bisa jadi, Kartini masih akan terus menangis ketika ideologi yang dulu gencar diperjuangkannya belum juga terwujud. Bisa jadi juga, dada Beliau terasa sesak menyaksikan kartini-kartini muda yang latah memujanya secara berlebihan melalui hal-hal yang lebih bersifat fisik dan kebendaan. Apalagi, melakukan indoktrinasi dan pemaksaan kehendak agar anak-anak kecil mengenakan kebaya hanya sekadar untuk mengenang dan mengagungkan namanya. Sungguh! Kartini, dalam dunia imajiner saya, tidak terlalu silau oleh segala macam bentuk penghormatan dan pemujaan secara berlebihan. Yang lebih Beliau hargai adalah semangat untuk mewarisi ideologi dan gerakan Beliau untuk memberdayakan kaum perempuan sekaligus menjadikan kemiskian, kebodohan, dan keterbelakangan sebagai musuh bersama.
NILAI-NILAI ;
1. Selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat bagi wanita-wanita di Indonesia...........
2. Selalu berpikir positif dalam menanggapi masalah..........
3.Wanita memiliki hak-hak yang harus di perjuangkan.......
SARAN-SARAN UNTUK "Kartini-kartini Muda"
1. Selalu perjuangkan hak-hak seorang wanita......
2. jangan mau di tindas oleh kaum lelaki.......
3. Selalu berpikir positif dan realistis..........
PSB online
Menurut pendapat saya pendaftaran siswa baru yang online cukup mempermudah siswa dalam pendaftaran.namun saya kurang menyetujuinya karena sekolah tidak dapat mengetahui kamampuan secara langsung yang dimiliki oleh siswa.Sehingga mutu sekolah pada tahun tersebut semakin menurun.Seharusnya sekolah serta DINAS Pendidikan melakukan test secara langsung kepada siswa baru,sehingga sekolah dapat mengetahui kemampuan siswa dan dapat memilih sesuai skill......................
Hari Bumi
mAkNa perinGatan haRi buMi bwT ak sBeneRnya banyak banget..Membuat kita sadar klo seharusnya kita lebih menjaga bumi kita ini...karna selama ini banyak yang ga sadar klo bumi butuh untuk kita rawat dan jaga..slama ini kita hanya memanfaatkan fasikitas bumi dengan semaunya tanpa berpikir bahwa dengan tandakan kita itu kita dapat merusaknya.Oleh KareNa iti uNtuk meNyeLamatkan bumi Kita yang tercinta ini,,mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk merawat bumi kita.Dengan cara menjaga polusi udara,,tidak membuang sampah sembarangan,dan mengajak masyarakat skitar untuk tanam sejuta pohon..karana jika bumi kita sehat dan terhindar dari pemanasan global,,kita merasa senang dan nyaman tinggal di bumi kita terTjiEnTAh ini...
prenz for me
Nilai persahabatan bagiku sangat penting, sahabat bagaikan saudara, sahabat tempatku berbagi. hidup takkan lengkap tanpa sahabat. hidup sunyi tanpa adanya sahabat.
tiap hari ku tak lepas dari sahabat, jadi sahabat sangat penting bagiku.
tiap hari ku tak lepas dari sahabat, jadi sahabat sangat penting bagiku.
100 %, 19 sekolah tidak lulus
Yang seharusnya yang bertanggung jawab atas atas tidak lulus 19 sma adalah muridnya sendiri dan juga pemerinta. Mengapa angka tidak kelulusan sangat banyak, dan sebaiknya di tindak lanjuti agar tahun depan bisa lebih bagus.
Mungkin ia sih penyebab tidak adalah gara-gara tersebarnya kunci jawaban palsu, seharusnya para siswa/siswi tidak percaya atas kunci jawaban itu dan mereka seharusnya pede ama kemampuanya ataupun kalau mau nyontek ya ma temen yang pintar ja.
Menyikapi hal ini dengan serius, mengapa bisa terjadi sampai segininya.
Mungkin ia sih penyebab tidak adalah gara-gara tersebarnya kunci jawaban palsu, seharusnya para siswa/siswi tidak percaya atas kunci jawaban itu dan mereka seharusnya pede ama kemampuanya ataupun kalau mau nyontek ya ma temen yang pintar ja.
Menyikapi hal ini dengan serius, mengapa bisa terjadi sampai segininya.
hiv/aids
Langkah2 yang peRlu diLaKukAn bwt mencegah adanya peningkatan persebaran HIV/AIDS,,dengan cara mengadakan penyuluhan tentang bahaya HIV/AIDS..daN caRa peNyebArANnYA..peNyuLuhan di seluruh sekolah2 dan uneveRsitas2 di seluruh penjuru indonesia..terutama di kota2 besar seperti "JAKARTA dan SURABAYA"...
dan lokalisasi yang rentan menjadi tempat persebaran HIV/AIDS..
Faktor yang mempengaruhi persebaran HIV/AIDS:
HIV terdapat dalam sebagian cairan tubuh sperti,, aiR maNi,,aiR susu iBu,,DarAh,,dan caiRan vaGiNa.. dan cara penularannya adalah
berSenGgAMA DENGAN PENGIDAP HIV/AIDS,,peNgguNaan jaRum sUntik yAng sama dengan peNgidap..jAdi,,untuk trhindar dari hiv/aids,,hiduplah sehat dengan cara hindari sex bebas dan say no to drugs!!!
Memang itu seluruhnya kesalahan anak trsebut..dan membuat nama baik sekolah tercemar..tapi melihat keadaan yang menjelang unas sebaiknya anak tersebut diberi kesempatan untuk ikut unas karena nanggung getoloh..masa tiga taon sekolah dibatalkan gara2 hamil..kan kasian..
dan lokalisasi yang rentan menjadi tempat persebaran HIV/AIDS..
Faktor yang mempengaruhi persebaran HIV/AIDS:
HIV terdapat dalam sebagian cairan tubuh sperti,, aiR maNi,,aiR susu iBu,,DarAh,,dan caiRan vaGiNa.. dan cara penularannya adalah
berSenGgAMA DENGAN PENGIDAP HIV/AIDS,,peNgguNaan jaRum sUntik yAng sama dengan peNgidap..jAdi,,untuk trhindar dari hiv/aids,,hiduplah sehat dengan cara hindari sex bebas dan say no to drugs!!!
Memang itu seluruhnya kesalahan anak trsebut..dan membuat nama baik sekolah tercemar..tapi melihat keadaan yang menjelang unas sebaiknya anak tersebut diberi kesempatan untuk ikut unas karena nanggung getoloh..masa tiga taon sekolah dibatalkan gara2 hamil..kan kasian..
Langganan:
Komentar (Atom)